
By : Dian Mardiyanti, S.Pd
Pada suatu ketika, ada seorang guru yang sedang memberikan wejangan kepada anak-anak didiknya. Dan wejangan yang satu itu memang dikhususkan untuk para siswi. Wahai anak-anak gadisku yang beranjak dewasa ... Ketahuilah … Bahwa perempuan itu mengalami 3 fase usia dalam menanggapi cinta pria. Ucap Bu guru memulai wejangannya. Seluruh siswi yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing, spontan menjadi tersihir dan fokus menunggu kalimat Bu guru selanjutnya.
Ketika masih berusia 15-20 tahun, maka kalian menjadi sosok yang teramat angkuh dan suka jual mahal ketika ada cowok yang mendekati. Walaupun sebenarnya dalam hatimu menyimpan perasaan yang sama…tapi luarnya tetap saja berpura-pura. Kata “IYA” belum akan kalian berikan sebelum sang pria benar-benar membuktikan cintanya. Sebuah pembuktian yang kadang mengharuskannya melakukan tindakan-tindakan di luar logika. Bangunkan seribu candi lah…, Petikkan bunga Edelweis di puncak Semeru lah…inilah…itulah…bahkan ada yang sampai minta Ambilkan bulan di langit….Weh, repot tu, ntar malamnya jadi gelap donk. Sehingga kalimat yang akan terlontar pada fase ini adalah “ SIAPA SIH LOE?”
Ketika usia beranjak dewasa ... sekitar 20-25 tahun, kalian mulai berpikir ke dalam. Khususnya bagi yang masih joblo. Kekhawatiran mulai datang menghantui. Takut kalo dianggap gak laku, takut kalo akan jadi perawan tua, atau sekedar gengsi ma temen-temen lain yang udah pada punya “PACAR”. Padahal sebenarnya pacar juga bukan status, jadi tetap sama-sama jomblo kan? Heran…siapa sih yang pertama kali mengklaim bahwa pacaran adalah sebuah status? Hayoo…bertanggung jawablah atas kekacauan yang telah kau timbulkan. Terus istilah yang tepat bagaimana? Mmm…CALON ISTRI/ CALON SUAMI mungkin lebih tepat kali ya. Hehehe. Pada fase ini kalimat yang akan terlontar adalah “ SIAPA SIH GUE?”
Usia terus bertambah…tak terasa ¼ abad telah terlampaui. Dan pangeran impian belum juga datang mengisi hari-hari. Keadaan semakin mencekam, pikiran sudah tak lagi berfungsi, rasa sudah tak lagi jadi bahan pertimbangan, standart pria idaman pelan tapi pasti mulai diturunkan. Semangat hidup menyurut. Setiap hari hanya melamun sambil meratapi nasib. Betapa malang nasibku semenjak ditinggal …hehehe (kok malah jadi nyanyi si). Sehingga akhirnya hati sampai pada sebuah kesimpulan “ YAH…SIAPA AJA BOLEH LAH, YANG PENTING CO.”
Diakui atau tidak, gejala-gejala di atas memang sering menyerang kaum hawa. Palagi ditambah dengan data sensus penduduk yang mengatakan bahwa jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria. Jadi tidak ada salahnya kalo wanita menjadi lebih aktif. Eit, aktifnya tetep yang syar’I ya ! Dan gak dibenarkan juga untuk asal memilih pasangan, karena itu akan ikut menentukan surga neraka kita.
Adanya globalisasi, yang mengusung budaya westernisasi dewasa ini, sedikit banyak memang telah berperan atas bergesernya nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat kita. Wanita menjadi semakin menggadaikan harga dirinya hanya agar bisa mendapatkan cinta seorang pria. Mereka semakin lupa akan janjiNya bahwa “ Wanita baik-baik hanya untuk pria baik-baik, pun sebaliknya”. Jadi, kalau kita merasa “BAIK”, tapi masih belum juga ketemu yang cocok, maka bisa jadi itu adalah ujian bagi keimanan dan kesabaran kita. Dan tentu saja, ada imbalan yang luar biasa menggembirakan dari Dzat yang Maha Pengasih, lagi Penyayang, bila kita mampu melewatinya.
Sesungguhnya hanya Allahlah yang tau persis KESIAPAN kita, bukan sekedar KEINGINAN kita. Semua wanita INGIN menikah, tapi apakah kita benar-benar sudah SIAP. Mengapa kita merasa seolah-olah tidak punya apa-apa, hanya karena belum ada seseorang di sisi? Lalu bagaimana dengan nikmat Allah yang lain? Pendidikan tinggi, karir gemilang, penghasilan berlimpah…seolah semua itu tidak berharga. Rasanya sungguh tidak bijak jika kita bersikap seperti itu.
Mulai sekarang….STOP menuntut! STOP mengeluh! Bukankah jodoh tidak jauh dari kita?
Kalau kita ingin mendapatkan seseorang yang berkualitas, maka tingkatkan pula kualitas diri kita. Allah lebih tau upaya kita. Adakah sama orang yang berusaha dengan orang yang mau tidak berusaha? TIDAK...sekali-kali TIDAK.
Pengin dapat suami sholeh ? Seberapa besar tingkat kesolehan kita?
Pengin dapat suami cinta ilmu? Seberapa besar kecintaan kita terhadap ilmu?
Pengin dapat suami setia ? Seberapa besar tingkat kesetiaan kita?
Pengin dapat suami jujur ? Seberapa besar tingkat kejujuran kita?
Pengin dapat suami tanggung jawab? Seberapa besar kita mampu menjalankan tanggung jawab yang diamanahkan pada kita?
Pengin dapat suami yang penuh cinta ? Seberapa besar kita mampu berbagi cinta kepada sesama ?
Pengin dapat suami berhati lembut ? Seberapa lembut hati kita selama ini?
Kawan ... pasangan kita sebenarnya adalah cermin diri kita sendiri. Maka bangkitlah…berkaryalah…hakikat keadaan buruk diciptakan bukan untuk di sesali...bukan untuk di ratapi. Tetapi untuk di perbaiki, agar kita layak disebut sebagai MANUSIA…
Teruntuk : Seluruh wanita yang sedang dalam penantian
Janji Allah adalah PASTI, masalahnya hanya… WAKTU
Selasa, 28 Desember 2010
.:: BILAKAH WAKTU ::.
Selasa, 10 November 2009
Bersyukurlah !

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku ?
Philip M. Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini.
Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari :
57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang Afrika
52 perempuan
48 laki-laki
80 bukan kulit putih
20 kulit putih
89 heteroseksual
11 homoseksual
6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standart
70 orang tidak dapat membaca
50 orang menderita kekurangan gizi
1 orang hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
1 orang memiliki komputer
Marilah kita merenungkan analisis Hartner dan mulai dari hal-hal sebagai berikut :
* Jika kamu tinggal di rumah yang baik, punya banyak makanan dan dapat membaca, kamu adalah bagian dari kelompok terpilih.
* Jika kamu punya rumah yang baik, makanan dapat membaca dan memiliki computer (apalagi laptop…), kamu adalah bagian dari kelompok elit.
* Jika kamu bangun pagi ini dan merasa sehat, kamu lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.
* Jika kamu tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena di penjara, kesakitan karena penyiksaan atau kelaparan, kamu berada selangkah lebih maju dibadingkan 500 juta orang di dunia.
* Jika kamu dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa atau mati, kamu beruntung…karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.
* Jika kamu memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian dan memiliki atap menaungi tempatmu beristirahat, kamu lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.
* Jika kamu memiliki uang di bank, di dompet dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, kamu termasuk dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.
* Jika orang tuamu masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan pernikahan mereka, maka kamu termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka terutama di Amerika Serikat.
* Jika kamu mampu menegakkan kepala dengan senyuman di bibir dan merasa benar-benar bahagia, kamu memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.
* Jika kamu dapat membaca ini, kamu baru saja menerima karunia ganda, karena ada orang yang memikirkanmu dan kamu jauh lebih beruntung dibandingkan lebih dari 2 milyar orang yang tidak dapat membaca sama sekali.
Fain ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsyuuhaa. Niscaya kita akan pernah mampu menghitung segala nikmat dan karunia Allah untuk kita. Sampaikanlah hal ini kepada orang lain dan ingatkanlah bahwa sebenarnya…kita adalah orang-orang yang sangat BERUNTUNG.
Manusia Bahagia Bila...

Manusia bahagia bila ... ia bisa membuka mata
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti
Manusia bahagia bila…ia mau membuka mata hati
Untuk menyadari betapa ia dicintai ...
Manusia bahagia bila…ia mau membuka diri
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus
Manusia tidak bahagia karena ...
Tidak mau membuka hati
Berusaha meraih yang tidak dapat diraih
Memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan
Tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada
Manusia tidak bahagia karena ...
Egois..dan hanya memikirkan diri sendiri
Tidak sadar bahwa ia begitu dicintai
Tidak sadar bahwa apa yang ada saat ini adalah baik
Dan terlalu berangan-angan atas sesuatu yang belum terjadi ...
Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri
Jikalau berharap dari orang lain…
Maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati
Kita akan bahagia bila…
Kita bisa menerima diri apa adanya
Mencintai dan menghargai diri sendiri
Mau mencintai dan mau menerima orang lain.
Percayalah dan bersyukurlah kepada Tuhan
Bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati
Ia akan memberi kita disaat tepat apa yang kita butuhkan
Meskipun bukan hari ini, masih ada esok
Berusahalah dan bahagialah karena
Kita dicintai begitu banyak orang...